Hidupnya mungkin tak lebih dari sebulan. Mendengar sebuah eksekusi, meski bukan untuk diri sendiri, rasanya tak tergambarkan. Memandang sosok itu, jadi tak segampang biasa. Setiap kalimat rasanya penuh air mata. Sedih..
Meski percaya hanya Yang Maha Kuasa lah yang maha tau dan menentukan, tapi rasanya waktu berhenti berputar. Obrolan terasa hambar. Sepertinya semua cara untuk menghentikan penyakit yang ada di dalam tubuhnya tak berguna lagi.
Tak terbayangkan bagaimana kelak jika sosok itu benar-benar pergi. Apakah saya bisa mengatasi rasa kehilangan itu? Pagi tadi saya baca tulisan FraterTelo tentang kehilangan. Satu sisi saya mencoba untuk menjadi manusia tegar, semua yang ada di dunia ini hanya titipan, semua milikNya. Sisi lain, saya termasuk manusia lemah.
Ah… semoga saja keajaiban itu datang. Saya tak sanggup jika hari itu tiba.
Ada sajak Subagio Sastrowardojo yang dikutip Goenawan Mohamad pada capingnya minggu ini tentang apa yang dimiliki manusia :
Tak ada yang kita punya
yang kita bisa hanya
membekaskan telapak kaki,
dalam, sangat dalam,
ke pasir
Lalu cepat lari sebelum
semua berakhir….
6 Comments
January 22, 2008 at 11:45 am
Membaca posting ini, saya seperti ikut hanyut…(mungkin pengalaman serupa juga pernah saya alami.)
Tak pernah ada yang siap untuk kehilangan (terlebih sesuatu yang kita cintai), jadi ada baiknya manfaatkan setiap detik yang tersisa itu..
January 23, 2008 at 7:07 am
Mantep Banget sajaknya Subagio Sastrowardojo
Salut… itulah hidup.. *MAMPIR NGOMBE*
January 24, 2008 at 11:35 pm
Ammar sakit ???
January 25, 2008 at 8:51 pm
sabar ya. memang begitulah kehendak alam, dari tak ada kembali ke tak ada.
January 29, 2008 at 8:13 am
ya..sekarang ini tiap detik amat berharga utk tetap melihat sosok itu tersenyum.. mohon doa. Ammar Jr baik-baik saja..
January 30, 2008 at 12:26 pm
Ammar Jr ya yang sakit? sakit apa?
Leave a Reply