June 11, 2008...9:12 am

Ibunda, Selamat Jalan

Jump to Comments

Bunda terkasih, jangan ditanya mengapa kami, begitu mencintaimu…

Cinta bunda selalu membuat kami hangat dalam keluarga ini.

Kasih bunda adalah semangat kami untuk hidup lebih baik setiap saat.

Doa bunda adalah kekuatan kami untuk tetap bertahan dan tegar.

Senyummu yang damai tak pernah putus,

Buah tanganmu selalu menjadi rebutan,

serta dongeng-dongengmu tentang kehidupan,

tak pernah lekang dalam ingatan.

Tak ada panas terik, badai, atau jalan panjang yang berliku untukmu,

saat membuat kami menjadi kuat.

Airmatamu, hatimu yang tergores, bahkan

perjuanganmu bertaruh nyawa untuk kami,

sungguh tak mampu kami balas.

Tak ada sastra yang bisa menuturkan kebesaran cinta bunda.

Tak ada satu ilmu pun yang sanggup menghitung nilai-nilai cintamu untuk kami.

Khalifah Umar bin Khatab pun pernah berseru : ”Tidak!Tidak! Tidak! Tidak ada budi yang dapat mengimbangi cinta seorang ibu, apalagi membalasnya.”

Kini, ruh mu telah kembali keharibaanNYA…

Tak ada lagi cinta yang bisa kami sentuh langsung itu…

Segala penyesalan yang menyesak tak ada gunanya lagi…

Hanya doa yang bisa kami sampaikan…

Ya Allah, Ya Rabbi…

Ampunilah dosa bunda,

Limpahkanlah rahmat kepadanya,

Hapuskanlah kesalahannya,

Maafkanlah segala kekhilafannya,

Lapangkanlah kuburnya,

Muliakanlah tempat tinggalnya di sana…

Amiinnn Ya Robbal ’Alamiin..

Bunda..

Seperti Edellweiss…

Seperti bunga yang putih, bersih dan harum kesukaanmu itu…

Hatimu pun sungguh putih…

Seperti Edellweiss…

Bunga putih yang tumbuh abadi di ketinggian gunung itu,

Bunda juga akan selalu hidup kekal di hati kami, di tempat istimewa dalam diri kami…

Bandung, 1 Juni 2008

52 Comments

Leave a Reply