July 23, 2008...7:45 am

Bocah Kecil di Lampu Merah

Jump to Comments

Bajunya rombeng, kulitnya kusam, rambutnya sepertinya sudah lama tak tersentuh shampo. Setiap hari sosok itu kulihat di pinggiran lampu merah di kawasan Selatan Jakarta. Sesekali menghampiriku sambil membawa bambu yang ujung sudah ditempeli tutup botol. Kemudian suaranya terdengar begini : “Malam-malam ku sendiri, tiada yang menemaniku… “ ah entah itu lagu siapa, nadanya pun tak jelas. Kadang tanganku tergerak untuk mengambil lembaran jatah parkir. Kadang tangan ini cuma melambai saja.

Terlintas dalam pikiran ini, di mana ya di tidur? APa benar dia sendiri? Karena kulihat di pojokan jalan sana seorang pemuda bercelana jeans dengan sebatang rokok di tangannya seperti tak berhenti mengawasinya.

Bertahun lalu, ketika film Daun Di Atas Bantal-nya Garin Nugroho dirilis, cerita tentang anak jalanan ramai terdengar. Banyak kisahnya, misalnya, konon anak-anak jalanan sudah akrab dengan istilah teler sambil ngakak sepuasnya. Caranya? Gak pakai modal sebesar harga extacy, tapi cukup lem kaleng yang dioleskan di sebuah alat pendingin atau langsung dihirup hidung mereka yang seringkali penuh coreng moreng karena debu itu. Di Legian, beberapa waktu lalu, bahkan seorang anak menghampiri. Awalnya dia menawari jasa untuk membuat tato non permanen di tangan. Tapi, sementara jemarinya lincah mengukir gambar, dia berkata begini : “Kakak, perlu temankah? Ada perempuan. ada lelaki. Bisa apa saja kok..” Aihhh…

Kini, hasil penelitian terbaru di Indonesia angka perokok makin membengkak. Pelakunya? Yang termuda anak-anak usia lima tahun. Ah.. Belum lagi penelitian yang berkaitan dengan masalah kejiwaan. Soal film-film atau berita yang tak layak dilihat anak-anak. Meski bukan pornografi, tapi masalah kekerasan, diam-diam bisa mengangkangi pikiran mereka yang putih polos itu. Jangan heran, kalau anak-anak sekarang akrab dengan kata: brengsek, setan, pelacur! (Apalagi??)

Belum lagi, urusan jajanan anak-anak yang dinodai para pengusaha tak punya perasaan dan hanya mengejar untung saja. Pewarna tekstil yang dicampur ke bahan jajanan anak-anak lah, bahan kue kadaluarsa yang diolah lagi menjadi jajanan baru lah.. (Apalagi??)

Duhai… akan jadi apakah generasi masa depan ini kelak? Meski agak terhibur juga dengan prestasi beberapa anak yang berhasil mengharumkan nama bangsa di luar sana. Atau anak umur 15 tahun yang punya inovasi membuat kompos dan punya cita-cita membuat tempat sampah yang bisa dibawa ke mana-mana itu. Tapi kenapa hati ini masih saja masygul…

Sepertinya anak-anaknya si Ammar Jr, masih lebih jelas masa depannya… Sementara bocah kecil di lampu merah itu? Entahlah!

Selamat Hari Anak … Indonesiaku!

58 Comments

Leave a Reply