Jujur saja, rasanya setiap hari selalu ada saja yang dikeluhkan. Entah itu gara-gara jalanan macet, atau pengendara lain yang tak tau diri, atau pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang sembarangan. Atau asisten pribadi yang bloonnya super ampun, atau temen kerja yang nyebelin, gak tau diri, selalu telat meeting, atau dosen yang telat dan kasih tugas segunung. APalagi? Makan siang yang mbosenin, pacar yang gak pernah mau peduli sama urusan kita, sepatu yang sudah kumel, tas yang sudah gak update, komputer yang tiba-tiba diserang virus? Pokoknya macam-macam lah.
Itu juga terjadi pada saya. Bahkan, seringkali keluhan itu membuat saya menjadi orang paling menderita di dunia. Tapi, perasaan ini langsung berbalik 180 derajat sekarang ini. Ting Tang nya gara-gara saya nonton sebuah acara di televisi (lupa nama statsiunnya). Intinya, saat itu ditayangkan kisah beberapa penggali pasir di sebuah gunung di Jawa Tengah. Saya tertarik pada sosok salah satu di antara mereka. Namanya Pak SUkardi (kalau gak salah begitu namanya).
Sosok itu selalu tersenyum saat berkisah soal kehidupannya. Sikapnya pada takdir begitu pasrahnya. Hebat, padahal sepertinya hidupnya itu gak mudah. Bayangkan saja di saat matahari bersinar garang, dia harus terus menggali dan mengangkut pasir ke pinggiran jalan.Padahal lokasi tempat dia menggali itu cukup jauh dan terjal. (Kalau saya pasti sudah ngos ngos an. Habis nafas deh). Kalau cuma sekali balikan saja, mungkin gak masalah. Lha ini? DIa lakukan sejak matahari muncul hingga balik lagi ke balik bumi yang lain.
Istimewanya lagi, senyum masih belum lepas saat dia bercerita tentang pasir yang digalinya selama 5 hari ternyata sudah raib sebelum diangkut oleh pemesannya. Gileee… Yang marah sepertinya si pewawancara. “Bapak gak marah? Bapak gak kesal? Pak SUkardi itu cuma berkomentar begini : “Mau kesal dan marah pada siapa? Mungkin Tuhan belum mengijinkan pasir itu menjadi rejeki saya”. Uhh… kepasrahannya membuat hati saya ‘tersipu’.
Dua puluh lima ribu per hari dia mendapat rejeki dari menggali pasir itu. Pak Sukardi memang ‘cuma’ melepaskan 5 x rp 25 rb nya itu pada si maling yang tak tahu diri (uh kok saya yg menhujat ya). Lepas dari urusan soal isu pelestarian lingkungan hidup, berapa liter keringat yang diperas dari tubuhnya? Berapa ribu semangat yang dipompa di hatinya untuk mengayunkan pacul ke gunung itu? Berapa energi yang dibakar untuk memikul bakul demi bakul pasir di pundaknya melewati jalan terjal itu? APakah segala keluhan yang kita lontarkan sepanjang hari ini sebanding dengan keikhlasan atau kepasrahan bapak tua itu dalam menghadapi cobaan? Padahal mungkin hidup kita lebih mudah dari dia.
Saya sungguh malu…
36 Comments
June 25, 2009 at 6:50 am
kedahsyatan Pak Sukardi
adalah keikhlasannya
June 25, 2009 at 8:47 am
pak sukardi berjiwa besar ya..
June 25, 2009 at 11:25 am
itulah manusia masusia yang mau bersyukur
Salam Sayang
June 25, 2009 at 3:46 pm
tak banyak orang seperti pak sukardi di jaman sekarang ini mbak.. biasanya yg ada di dalam kepala mereka adalah, “apapun aku lakukan supaya aku bisa makan”
June 25, 2009 at 4:13 pm
Tak banyak orang seperti pak Sukardi yang mensyukuri segala nikmat Nya..akupun malu setelah baca postingan ini, kisah yang menyentuh
-salam- ^_^
June 26, 2009 at 3:05 am
@kangboed
kangboed lagi yang nongol, sepertinya semua blogger sudah di jajah oleh komentar kangboed.
@kucingkeren
di atas kucingkeren masih ada kucing anggora
di atas segala permasalahan masih ada permasalahan yang lebih berat
di atas kehidupan masih ada kehidupan lain
di atas langit masih ada langit
p.s kangboed
di atas kangboed masih ada kangboed lain
di atas blogger masih ada blogger lain
June 26, 2009 at 5:57 am
Pak Sukardi adalah org sabar dan teguh hati
SAlam kasih
June 26, 2009 at 10:29 am
inspirasi sering datang dari orang2 biasa seperti p kardi…
June 26, 2009 at 1:10 pm
terima kasih sharingnya………bagus sekali
June 26, 2009 at 4:17 pm
Kadang-kadang sesuatu yang membuat kita menerima dengan apa adanya,adalah karena tidak ada pilihan lain atau tidak bisa menemukan pilihan lain yang baik dari apa yang di dapatkan sekarang sis.Contohnya pak Sukardi.Allah bersamanya.
June 27, 2009 at 6:50 am
terkadang kita mengeluh pada keluhan yang ngak penting, semangat pak Sukardi!!!!!
June 27, 2009 at 7:46 am
semoga kita merupakan salah satu dari orang2 yang selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki
June 27, 2009 at 8:55 am
emang.. keluhan2 ini nih yg bikin hidup kerasa berat
top markotop lah buat pak Sukardi
tetep semangat…
June 27, 2009 at 12:37 pm
kadang dalam hidup, kita tersandung tantangan oleh karena kesalahan kita sendiri, Diantara tantangan yang aku hadapi adalah Mendapat JULUKAN : C.G.P.P (cowok gak Punya Perasaan). ah,
aku mengakui, jika aku khilaf, aku salah,namun ilyasafsoh tidakboleh berdiam diri oleh julukAN CGPP tersebut, ilyas afsoh sedang mempersiapkan diri menyambut kesuksesan yang lebih besar, yang banyak memberi manfaat pada banyak Umat.
Sahabat, aku minta doa- doa dari Anda.
Agar Label CGPP ini : memberi / menjadi batu titik tolak BANGKITNYA ilyas afsoh menjadipribadi yang lebih santun, yang lebih menghormati sesama, dan menghormati diri sendiri.
Ya ALLAH,
dan Para Sahabatku Para Blogger, dukunglah aku menjadi Pribadi yang lebih santun. Berikan Aku dukungan ….
dukungan
semangat
support
ILYAS AFSOH | 088 1296 3105 | Aku bukan CGPP
http://ilyasafsoh.wordpress.com/2009/06/27/c-g-p-p/
June 28, 2009 at 7:14 pm
Ketentraman batin memang tak bisa d ukur dengan materi…
June 29, 2009 at 6:56 am
ah, amar!
aku pun jadi tersipu.
betapa selama ini aku juga cenderung take things for granted, kurang bersyukur.
June 29, 2009 at 10:52 am
yach…, emang begitu tuh yg namanya manusia termasuk saya

pd saat susah dikit aja, ngeluhnya ga ketulungan serasa kita neh orang paling menderita di sunia. trus wkt nya bahagia dateng, kita jadi lupa daratan
kuncinya cuma pandai2lah bersyukur. mencari hikmah di setiap kesulitan en berterima kasih setulus hati saat anugerah itu diberikan ok
c u…
June 30, 2009 at 1:52 am
salut buat jiwa besarnya pa’ sukardi..
June 30, 2009 at 2:18 am
Senyumnya harus difoto
tidak mengeluh dan tegar menghadapi hidup
*salut buat sukardi*
June 30, 2009 at 4:40 am
wah, kerja keras 5 hari amblas masih senyum
klo ak udah jingkrak2 tuh, salut dah *nyembah*
June 30, 2009 at 7:44 am
jadi malu sama kang pardi
June 30, 2009 at 11:06 am
lama gak absen…. mampir lagi boz…
June 30, 2009 at 1:14 pm
Pa’ Sukardi emang ga’ ada duanya…
salam ya…?
June 30, 2009 at 1:49 pm
Parah ya, nyari duit di Indonesia dah gila gila an dah
June 30, 2009 at 4:08 pm
nikmat – syukur mendarah daging di pak Sukardi… dia emang orang yang super.
niru pak kardi kudu ceria
July 1, 2009 at 12:11 pm
malam sahabat
pa cabar?
salamkan salam blue untuk pak Sukardi yah
salam hangat selalu
July 2, 2009 at 2:38 am
bener2 ke iklasan yang luar biasa pak sukardi itu
July 2, 2009 at 2:30 pm
hhmm…
trenyuh rasanya membaca postingan ini. andai bisa bertemu dengan pak sukardi itu, bisa bertukar pikiran dgn dia, sapa tau bs ketularan ikhlas kayak beliau. kasian ya, hidupnya sudah begitu berat, tapi hatinya ikhlasssssssss banged.
July 2, 2009 at 4:24 pm
semoga keikhlasan beliau membuahkan hasil dari sang Pancipta.. Amien..
-salam- ^_^
July 3, 2009 at 8:56 am
sore yang mendung sahabat
siapkan diri tuk arisannya blue heheh…………
salam hangat selalu
pa cabar?
July 3, 2009 at 12:49 pm
salam . . .
kunjungan dimalam hari
July 3, 2009 at 2:22 pm
hakikat ikhlas sering malah ditemukan oleh orang2 yang tidak seberuntung kita ya..
ah saya juga lama gak jalan2 ke rumah kucing ini
July 4, 2009 at 4:47 pm
*kunjungan dinas* he he he
July 4, 2009 at 8:02 pm
*speechless*
July 5, 2009 at 1:53 pm
selamat malam sahabat
senang rasanya abang selalu mau merespon semua yang blue lakukan
makasih ya bang untuk persahabatannya
salam hangat selalu
LoVE u abang dech,ya kucing
September 4, 2009 at 8:03 am
Yang justru lebih sering bersyukur adalah mereka yang “dianiaya”, ketimbang mereka yang “mendapat rejeki”…..