June 25, 2009...4:57 am

Pak SUkardi

Jump to Comments

Jujur saja, rasanya setiap hari selalu ada saja yang dikeluhkan.  Entah itu gara-gara jalanan macet, atau pengendara lain yang tak tau diri, atau pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang sembarangan. Atau asisten pribadi yang bloonnya super ampun, atau temen kerja yang nyebelin, gak tau diri, selalu telat meeting, atau dosen yang telat dan kasih tugas segunung. APalagi? Makan siang yang mbosenin, pacar yang gak pernah mau peduli sama urusan kita, sepatu yang sudah kumel, tas yang sudah gak update, komputer yang tiba-tiba diserang virus?  Pokoknya macam-macam lah.

ammarjrItu juga terjadi pada saya. Bahkan, seringkali keluhan itu membuat saya menjadi orang paling menderita di dunia. Tapi, perasaan ini langsung berbalik 180 derajat sekarang ini. Ting Tang nya gara-gara saya nonton sebuah acara di televisi (lupa nama statsiunnya). Intinya, saat itu ditayangkan kisah beberapa penggali pasir di sebuah gunung di Jawa Tengah.  Saya tertarik pada sosok salah satu di antara mereka. Namanya Pak SUkardi (kalau gak salah begitu namanya).

Sosok itu selalu tersenyum saat berkisah soal kehidupannya. Sikapnya pada takdir begitu pasrahnya. Hebat, padahal sepertinya hidupnya itu gak mudah. Bayangkan saja di saat matahari bersinar garang, dia harus terus menggali dan mengangkut pasir ke pinggiran jalan.Padahal lokasi tempat dia menggali itu cukup jauh dan terjal. (Kalau saya pasti sudah ngos ngos an. Habis nafas deh). Kalau cuma sekali balikan saja, mungkin gak masalah. Lha ini? DIa lakukan sejak matahari muncul hingga balik lagi ke balik bumi yang lain.

Istimewanya lagi, senyum masih belum lepas saat dia bercerita tentang pasir yang digalinya selama 5 hari ternyata sudah raib sebelum diangkut oleh pemesannya. Gileee… Yang marah sepertinya si pewawancara. “Bapak gak marah? Bapak gak kesal? Pak SUkardi itu cuma berkomentar begini : “Mau kesal dan marah pada siapa? Mungkin Tuhan belum mengijinkan pasir itu menjadi rejeki saya”.  Uhh… kepasrahannya membuat hati saya ‘tersipu’.

Dua puluh lima ribu per hari dia mendapat rejeki dari menggali pasir itu.  Pak Sukardi memang ‘cuma’ melepaskan 5 x rp 25 rb nya itu pada si maling yang tak tahu diri (uh kok saya yg menhujat ya).  Lepas dari urusan  soal isu pelestarian  lingkungan hidup, berapa liter keringat yang diperas dari tubuhnya? Berapa ribu semangat yang dipompa di hatinya untuk mengayunkan pacul ke gunung itu? Berapa energi yang dibakar untuk memikul bakul demi bakul pasir di pundaknya melewati jalan terjal itu? APakah segala keluhan yang kita lontarkan sepanjang hari ini  sebanding dengan keikhlasan  atau kepasrahan bapak tua itu dalam menghadapi cobaan? Padahal mungkin hidup kita lebih  mudah dari dia.

Saya sungguh malu…

36 Comments


Leave a Reply