August 31, 2009...4:05 am

Dia pun Benar Benar Pergi..

Jump to Comments

Jumat sore hati saya tiba-tiba rusuh. Entah apa penyebabnya. Siangnya memang ada kabar soal Bapak di Bandung. Konsentrasi saya lsulit sekali focus saat itu. Akhirnya semua kerja akhir minggu dikebut. Proses check and re check juga segera dilakukan. Setelah beres, saya minta ijin pulang duluan dan segera ke Bandung.

ammarinfusDi tol Cikampek, tiba-tiba ponsel berdering. Karena jalanan tak begitu padat, saya terima telpnya yang ternyata dari kakak saya di Bandung. “Posisi di mana?” Tol Cikampek, jawab saya. “Oh oke.. langsung ke rumah ya,” katanya. “Kenapa?” saya bertanya balik. “Ga papa, hati-hati di jalan,” jawabnya lagi tak jelas. Saya segera tancap gas. Hati saya tambah rusuh. Apakah ini berkaitan dengan Bapak? Apakah Bapak sakit ? Atau ada apa? Pedal gas pun saya tekan lebih dalam.

Satu jam setelah magrib, saya pun sampai di gerbang rumah. Sepi sekali. Hanya ada Bula –anaknya Ammar jr– menyambut di teras rumah. Cantiek –ibunya- kemana? Ammar Jr? Sesaat saya ingin sekali memanggil my sweety cat, Ammar Jr. Tapi saya urungkan niat itu, nantilah saya piker setelah tau masalah di dalam, baru saya cari Ammar Jr.

Di dalam rumah, bapak dan kakak serta istrinya sedang duduk. Saya langsung cium tangan dan memberi salam seperti biasa. Lalu kakak saya bicara. “Mau lihat Ammar? Ada di pojok?” kata bapak.. “Ammar kenapa?” tanyaku. “Tadi siang waktu bapak keluar masih tiduran di gerbang rumah.” Kata Bapak. “Waktu kami pulang, Ammar sedang dikerubungin sama Cantiek dan Bula. Ternyata Ammar udah gak bernafas,” tambah kakak saya.

ammar jrSaya diam tak tahu harus bicara apa. Tiba-tiba pikiran saya meloncat pada seminggu sebelumnya saat pulang ke Bandung. Tingkah laku Ammar Jr rupanya ingin pamitan pada saya. Saat itu, dia tidur di antara bantal dan guling di kamar saya sambil menatap. Dan wajahnya ditempelkan pada tangan saat saya menghampiri untuk mengelusnya. Tak biasanya dia masuk kamar saya.

BEsoknya, ketika dibawa ke klinik hewan pun dia tak banyak protes. Ammar duduk diam di jok belakang. Ketika dokter hewan yang merawatnya memasukkan jarum infuse ke kulit punggung nya pun dia diam saja. Juga saat vitamin dan obat penambah darah di suntikan ke daerah pantatnya, dia hanya menggeram sedikit. Matanya selalu menatap kamera ponsel . Saat itu ada tiga dokter hewan yang merawatnya. Yang satu memegangi jarum infuse. Yang satu lagi mengajak ngobrol dia, yang ketiga memberi makan ati ayam rebus yang dimakan lahap Ammar. Sepertinya Ammar nyaman di tangan ketiga dokter hewan itu.

ammarklinik1“Ammar sudah tua tapi tetap ganteng ya,” kata mereka. Matanya saat itu memang masih cemerlang, meski agak sedikit sayu. Saat itu Ammar didiagnosa dehidrasi. Jadi bulunya pun kusam dan sedikit kasar. Berat badannya turun drastis, karena itulah saya bawa ke klinik hewan itu. Di usiannya yang menjelang 10 tahun, untuk ukuran kucing Ammar Jr memang sudah tergolong tua. Mungkin karena faktor usia itu, Ammar tak kuat lagi dengan cuaca ekstrim seperti yang terjadi saat ini.

Meski sudah disiapkan segala makan kesukaannya, termasuk cairan yang dianjurkan dokter agar dikonsumsi usai perawatan di klinik, Ammar rupanya tak bisa bertahan lagi.

Penyesalan yang membuat air mata saya jatuh saat melihat kuburnya yang bertabur bunga, adalah saya tak pernah bisa merawatnya maksimal. Saya tak bisa bersamanya setiap hari. Tapi..kini saya yakin dia sudah berkumpul dengan keluarganya juga bunda saya yang juga menyayangi kucing yang tak pernah cerewet ini.

Saya berharap ini mimpi, seperti postingan sebelumnya tentang Ammar jr yang hilang. Tapi tanah kubur di halaman rumah itu benar-benar ada. Berjejer dengan kubur bapak dan kakeknya yang berbulu sama.

Selamat jalan Ammar jr. Selamat jalan sayang… Jaga terus pintu surga ya, mudah-mudahan kita kelak bisa berkumpul di sana…

67 Comments


Leave a Reply