Wanita dan Air Tak Terpisahkan

(This article published already on Tempo Daily, APril 2004)

Jumlah anak yang masuk sekolah naik 70-90%, penderita diare turun 90%! Angka-angka fantastis ini muncul di daerah Punjab, Pakistan. Dan percaya atau tidak, kabar baik itu terjadi gara-gara air!

womanAlkisah, Nadia Saeed seorang perempuan yang berprofesi sebagai sosiolog dari Provinsi Punjab, Pakistan, melihat betapa menderitanya masyarakat di sekitar Punjab gara-gara air. Banyak wanita, saat itu harus berjalan sekitar dua sampai enam jam untuk mendapatkan air bersih.

Meski demikian, para wanita itu tetap saja menjunjung air tersebut di atas kepalanya. Tak ada pilihan lain. Para pria dewasa terlalu sibuk seharian bekerja untuk mendapatkan nafkah, tak sempat lagi memikirkan kebutuhan kecil yang sangat penting itu. Sementara keluarganya harus tetap nyaman menyeruput air, bahkan mandi dan menyirami tanaman.

Begitu banyaknya waktu tersita untuk membawa air itu ke rumah, para wanita tersebut tak sempat lagi mempedulikan rambut di ubun-ubun kepalanya, tempat mereka meletakan beban air itu, pelan-pelan tak mau tumbuh lagi. Atau kakinya cacat akibat terjatuh ketika membawa beban air yang berat dari sebuah sungai.

Tak cuma itu, para ibu itu pun tak lagi punya waktu cukup untuk memperhatikan pertumbuhan anak-anaknya. Bagaimana buah hatinya sekolah, tentang kesehatan, atau aspek lainnya. Tragisnya, banyak anak-anak akhirnya terpaksa mengikuti jejak sang ibu untuk mengangkut air. “Dengan kondisi tersebut, tak heran, pada saat itu banyak anak-anak dan perempuan yang kesehatannya sangat buruk,” ujar Saeed. Di sisi lain, Saeed melihat potensi wanita di kampung tersebut sangat besar untuk mengorganisasikan air.


Meski di awal sangat berat. Misalnya, karena faktor adat dan budaya, beberapa pertemuan sampai harus diadakan dalam ruang terpisah. Di mana kelompok pria dan wanita dipisahkan oleh dinding khusus. Dengan melewati perdebatan sengit dan alot, akhirnya para perempuan berhasil ditarik aktif dalam mengatur organisasi air.

Saeed tak bosan-bosannya memotivasi masyarakat untuk melibatkan para perempuan di desanya. Mulai dari merencanakan proses pembuatan pipa-pipa saluran air, implementasinya, sampai pada monitoringnya. Idenya ternyata jitu. Kekuatan perempuan ternyata terletak pada ketelitian serta keeratannya mereka secara psikologis terhadap proyek yang ditangani. “Mereka lebih rajin memantau pekerjaan, lebih disiplin serta lebih peduli pada apa yang menjadi tanggung jawabnya,” katar Saeed berkisah. Secara sederhana, hal tersebut terjadi karena para perempuan itu lebih merasakan bagaimana sulitnya tanpa air di lingkungan mereka.

Hasil dari proyek yang didanai ADB (Asian Development Bank) selama 1995 – 2002 ini, mulai menampakkan hasil. Setelah penduduk desa di Punjab tersebut terjangkau pelayanan suplai air bersih, kehidupan pelan-pelan berubah membaik. Anak-anak yang tadinya terbebani mencari air, kini punya waktu untuk mengikuti sekolah. Begitu juga ibu-ibunya, waktunya dulu yang habis untuk mencari air, kini bisa digunakan untuk mencari tambahan dana keluarganya. Seperti menjahit, merajut, buka salon, berkebun, atau membuat makanan untuk dijual.

Tak hanya di Punjab, di perkampungan kumuh Pra You Vong, Phnom Penh, Kamboja, seorang ibu berusia 43 tahun, Len Tang Hok kini mulai bisa menyisihkan uang untuk membeli makanan yang lebih bergizi bagi ketujuh anaknya. Ini terjadi, sejak rumahnya mendapat pelayanan air dari Perusahaan Daerah Air Minum di Phnom Penh (PWSA).

Sebelumnya, Len Tang Hok harus membeli air dari penjaja keliling senilai 1.000 riels (sekitar Rp 2,139) setiap hari. Kini ia hanya membayar 5.000 riels (sekitar Rp10.695) per bulan kepada PWSA, yang baru-baru ini memperluaskan layanannya hingga ke perkampungan penduduk miskin tersebut. (1KHR = 2.13892 IDR)

Penghematan senilai Rp 53.475, per bulan, untuk orang-orang seperti Len Tang Hok, jelas sangat besar nilainya. Apalagi, penghasilan sang suami sebagai sopir angkot rata-rata hanya sekitar Rp11.500 per hari.

Kisah para perempuan yang memperjuangkan keberadaan air ini, yang kisahnya bergaung di forum Water Week For The Poor akhir Januari lalu di Manila, Filipina tersebut, pastilah terjadi juga di belahan bumi manapun. Termasuk di Indonesia.

Masih ingat Ny Eroh dari Desa Pasir Kadu, Tasikmalaya? Di usianya yang telah menginjak kepala lima itu, wanita ini bertekad membuat saluran untuk mengairi pesawahan di desanya.

Berupaya sendiri, selama dua tahun lima bulan, Ny Eroh akhirnya berhasil membuat saluran air sepanjang 4500 meter. Saluran air yang berasal dari sumber air Cilitung ini melewati delapan buah bukit sebelum sampai ke desanya. Berkat kepeloporannya, tanah persawahan Pasir Kadu yang semula kering kini tampak subur.

Berbagai penghargaan dianugerahkan pada wanita yang berasal dari keluarga petani miskin ini. Antara lain penghargaan tertinggi tingkat nasional bidang lingkungan hidup, KALPATARU, tahun 1989. Pada tahun yang sama, PBB menganugerahkan “Global 500 Honour-Roll of the United Nations Environnment Programme”.

Ada juga sosok Ny. Yuyu Yusanah dari Desa Cikarang, Majalengka Jawa Barat. Selama dua tahun, perempuan ini berhasil membuat terowongan air sepanjang 213 meter. Hebatnya, terowongan yang menembus bukit batu cadas, dibuat hanya dengan menggunakan peralatan sederhana seperti pahat, palu dan cermin. Sejak itu, Desa Cikarang kini memiliki tanah yang lebih luas untuk ditanami padi.

Perempuan lain yang tak bisa dilepaskan urusannya dengan air di Indonesia, adalah Ully Sigar. Sosok yang satu ini, jasanya sudah melanglang ke mana-mana. Gunung Pancar, dengan pelestarian sumber air panasnya. Kemudian pelestarian sumber-sumber air yang kering dan mati di hutan di daerah desa Cihandam, Baduy Luar. Juga di Kampung Naga, Tasikmalaya, Ully dan kawan-kawannya berhasil membuat gorong-gorong air dari sebuah mata air ke perkampungan tersebut. Kini, tentu saja, sumber mata air yang berhasil dilestarikan itu telah berhasil menyelamatkan dan mempermudah kehidupan penduduk desa-desa di sekitarnya.

Begitu pentingkah air bagi makhluk hidup? Yang pasti, tanpa air bersih, banyak manusia bahkan mahluk hidup lainnya akan tergelepar kehausan, kena penyakit, bahkan mati. Ironisnya, sumber kehidupan itu, kini sedang terancam berbagai masalah serius. Dari pencemaran, kelangkaan air maupun bencana alam akibat dampak perubahan iklim. Pada pertengahan abad ini, diperkirakan sekitar tujuh milyar orang di 60 negara akan menghadapi kelangkaan air.

Dan keterbatasan air ini, paling banyak dialami oleh mereka yang tak mampu. Secara global, 1,1 milyar orang miskin kini mengalami kesulitan dalam mengakses persediaan air bersih, dan 2,4 miliar mengalami masalah dengan sanitasi.

Wouter T Linklaen Arriens, ahli sumber daya air dari ADB, juga menyebutkan bahwa dua pertiga penduduk dunia akan mengalami kesulitan mendapatkan air pada 2025 mendatang, dan lebih dari satu milyar orang akan kekurangan air bersih. Di benua Asia saja, 40 persen penduduk miskin di perkotaan belum mendapat layanan air ledeng. Hampir dua pertiga penduduk termiskin dunia tinggal di wilayah Asia dan Pasifik dan suplai air bersih merupakan masalah yang sangat serius, katanya

Dewan Air Dunia (WWC), lebih lanjut juga menyebutkan bahwa 20 tahun mendatang, jumlah penduduk dunia akan meningkat dari enam milyar, menjadi sekitar 7.2 milyar orang, sementara persediaan air akan menurun hingga sepertiga dari yang ada sekarang. Artinya, 20 tahun kelak, penduduk dunia mungkin hanya dapat menikmati 30 persen suplai air dari yang dapat mereka nikmati sekarang.

Pengelolaan sumber air dengan benar dan bijaksana adalah salah satu hal yang bisa menyelamatkan sumber kehidupan itu. Paling tidak begitu disebutkan Arriens. “Semua harus bekerja keras,” ujarnya serius. Tak hanya wanita tapi juga pria. Keberadaan mereka, menurut Arriens memiliki porsi masing-masing. “Wanita bisa berperan sebagai ‘pelembut’ dalam pengelolaan air. Sehingga pengelolaan air tak lagi dianggap as an usual business. Pengelolaan air membutuhkan komitmen, tekad, serta nurani. Dan perempuan memiliki sikap tersebut,” kata Arriens yang telah lama berkecimpung dalam pengelolaan air di beberapa Negara ini.

Erna Witoelar, yang saat itu juga menjadi salah satu pembicara sebagai duta besar khusus dari MDG’s (Millenium Development Goals), menegaskan bahwa peran wanita tak bisa dianggap enteng dalam penyelesaian masalah air. Karena itu MDGs mencantumkan point promote gender equality and empower women menjadi salah satu dari delapan inti yang ditargetkan MDGs pada 2015 di 189 negara anggotanya. “Peran perempuan pun sangat dibutuhkan dalam tingkat pengambilan keputusannya,” kata Erna.

Pada faktanya, kehadiran para perempuan dalam pengelolaan air, tampaknya masih belum terwujud secara fair. Karena itu Alice Bourman dari Dewan Perempuan Belanda dalam Forum Air Sedunia ke-3 yang berlangsung di Kyoto, Maret 2003 lalu, tak bosan menyerukan agar jumlah kehadiran perempuan dipastikan seimbang dengan kaum pria dalam diskusi tentang air. “Komitmen itu masih di atas kertas saja,”kata Alice.

Kecuali menanti lagi sosok seperti Nadia Saeed, Ny Eroh atau Ully Sigar, masalah tersebut tentu harus dipikirkan serius oleh para pejabat yang berwenang. Arriens juga menyebutkan bahwa pria dan wanita memiliki aturan, kebutuhan serta persepsi yang berbeda. “Sehingga kehadiran mereka berdua dalam sebuah pengelolaan air akan saling melengkapi,” katanya. Air memang urusan semua orang.

Lebih penting lagi, pengelolaan air yang terpadu, transparan dan bersih adalah di atas segalanya. Keberadaan air yang layak pada waktu kini dan di masa depan adalah tanggung jawab kita bersama. Ditengah hiruk pikuknya kontroversi tentang keberadaan UU Sumber Daya Air di tanah air kita tercinta ini, jangan sampai mengabaikan impian bahwa bumi tetap memiliki air yang cukup bagi semua. Semoga angka-angka fantastis yang terjadi di Punjab Pakistan itu pun bakal muncul di negeri ini.

Advertisements

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Wanita dan Air Tak Terpisahkan

  1. trim’s ats kunjungan baliknya..
    ceritanya ya menurut aku OKE lah….
    low ada yang baru, ksih tau aku ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s