Sate

Daging yang dipotong-potong kecil kemudian dipanggang di atas api ini adalah salah satu makanan favorit saya . Saking favoritnya, saya rela menyingkirkan kepiting goreng kecap yang juga kesukaan saya untuk hanya menikmati rasa sate di lidah. DUlu ada tukang sate ayam langganan saya yang berkeliling di kompleks rumah. Setiap jam tujuh malam, si pak sate itu sudah siap siaga di luar pagar rumah. Tapi kebiasaan itu langsung berhenti sejak beredar isu bahwa sate yang dijual keliling itu pake daging kucing… huhuhu…. panik deh saya. Meski isu itu tak jelas ujung pangkal dan kebenarannya, sayang langsung goodbye deh sama tukang sate langganan itu, juga tukan sate yang tak jelas.

kucing Sejak itu, saya hanya makan sate buatan sendiri. Meski sesekali saya beli juga sate di luar, sate kambing kebun sirih atau di sate house senayan, atau di PSK itu.. Kenapa mau? ya itu dagingnya kan langsung dipotong-potong di depan pengunjung…yaahh setidaknya, saya tau lah yang dipotong itu bukan kucing 😦

Kemarin, di tengah perjalanan dan terjebak macet di daerah mangga dua, saya ngobrol sama teman seperjalanan. Dan topik pembicaraan sampa pada sate. “Gue penasaran nih sama sate, kenapa ya ditusuk2 kecil, gemana itu sejarahnya, ya?” katanya. Saya sedikit ‘terpesona’ dengan pertanyaan itu, iya juga ya, bagaimana itu sejarahnya, pikir saya. Hmm.. mungkin waktu itu yang menciptakan terburu-buru ingin dagingnya cepat matang, jadi dia potong-potong kecil, terus ditusuk-tusuk pake lidi atau bambu, soalnya bagaimana mereka bakar daging-daging kecil itu dibakar di atas api, langsung pakai tangan? weehh..nanti ikut kebakar dong tangannya.

Tapi saya, tetep penasaran bagaimana sejarah yang benarnya. Barusan saya cari-cari di mas google. dari Wikipedia saya dapat ini nih : Sate (ejaan lama Satay) ialah sejenis makanan yang dicucuk dengan lidi. Secara khususnya, sate dibuat daripada kepingan daging yang dicucuk pada lidi kelapa / buluh dan dibakar menggunakan api arang kayu.

Konon sate dicipta oleh para pendatang Tionghoa yang menjual daging bakar di pinggir jalan. Kata sate berarti “tiga tingkat” (三疊) dalam dialek Amoy.

Begitulah.. Entahlah benar atau tidak, sementara keinginan tahuan saya soal sate cukup terpenuhi lah… BTW.. si ammar juga suka sate lho, soalnya daging -dagingnya terpotong kecil-kecil, jadi dengan kondisinya yang ompong itu ia masih bisa menikmatinya… hehehe

Advertisements

Leave a comment

Filed under jurnal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s