Dialog dengan Kucing

tarsiusKok kucing diajak bicara, kata salah seorang teman suatu hari. Dia juga terheran-heran ketika saya menyebutkan bahwa kucing saya itu sedang sedih. Hehe… saya juga heran, kenapa ya saya bisa tahu kalau kucing saya lagi sedih, sedang jahil, sedang marah, sedang cemburu?

Naluri? atau karena pergaulan saya dengan kucing-kucing itu sejak kecil? Tapi saya yakin kok, bahwa kucing itu bisa diajak dialog. Saya ingat waktu kecil dulu, saya punya kucing namanya ‘Mama’. Kenapa disebut Mama? Karena dia memang berperan sebagai ibu, ketika ibu saya sedang sibuk kerja di organisasinya. Bagaimana perannya? Contohnya, saat saya dan adik saya bertengkar hebat, si ‘Mama’ ini berdiri di tenagh-tengah kami sambil mengeong-ngeong. Kemudian menghampiri kami satu per satu sambil menepuk-nepuk pipi kami dengan cakarnya. Believe it or not.. buts its the fact.!

tarsiusSemasa kuliah, kucing saya namanya AMmar Sr. Saat itu, saya sulit sekali bangun pagi. Iseng saja, saya bicara sama si AMmar Sr itu, Ammar, kamu bangun saya pagi-pagi dong. Ntar dikasih susu deh. Hehe.. pagi ebsoknya, saya etrbangun dengan suara berisik di depan pintu kamar. Sepertinya ada yang mau buka pintu tapi tidak bisa. Pas sayabuka, Si Ammar sedang meloncat-loncat mencoba menggapi pegangan pintu untuk membuka pintunya. Setelah dibuka, dia langsung menubruk saya, terus menjila-jilat muka saya. Weehh, rupanya begitu cara si ammar membangunkan saya. Dan itu terus berlangsung sampai lulus kuliah.

Sekarang saya masih saja ngobrol dengan kucing saya, AMmar Jr. Saya pikir dia juga mengerti. Contohnya, waktu itu saya bilang begini sama dia. “Ammar, kamu tuh pacaran terus, udah punya anak belum? Kalau ada, bawa dong ke sini.” Si ammar waktu itu cuma mengeong saja sambil menggesek-gesekan bulunya ke kaki saya. Ennn… percaya atau tidak, besok paginya, saya dipanggil ibu ke depan rumah. Di teras, ada 4 anak kucing berbulu hitam, dengan seekor induknya yang juga berbulu hitam pekat. Tak lama, si AMmar datang dan mencium-cium ke empat anak kucing itu terus menjilat hidung si emaknya. Busyetttt.. Sepertinya si Ammar mau bilang begini : Ini lho istri dan anak-anak gue… Pagi itu, kami terbengong-bengong melihat keluarga si Ammar.

Masih banyak cerita yang seru. Tapi nanti deh lagi ya…

Advertisements

2 Comments

Filed under kucing

2 responses to “Dialog dengan Kucing

  1. itulah efek dari saya sayang kita kepada makhluk ciptaanNya. Kalau kita benar-benar tulus menumpahkan rasa sayang kitanya, maka dia pun akan membalasnya juga. fantastik ya efek dari rasa cinta itu…

  2. haha… saya juga dulu sering tu ngobrol sama kucing…
    walaupun saya nggak berani megang (geli euy…) tapi si kucing-kucing itu biasanya pasang tampang ngerti gitu sama omongan kita…
    sudah gila kah kita? *sokmikir*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s