Si Mbah

Bangun pagi tadi, kok tiba-tiba saja ingat si mbah almarhum. Rambut dan peci putihnya. Bau tembakaunya tiba-tiba saja tercium. Ah, rasa kangen itu tiba-tiba muncul. Saya langsung ingat ketika kami makan roti isi kacang hijau sama-sama. Padahal saya tidak suka yang manis-manis, tapi demi si Mbah yang saat itu sudah 80 an tahun itu, saya rela makan sedikit-sedikit. Tapi, swear, roti isi kacang hijau itu saat itu bener-bener rasanya lezat. Dan akhirnya kami habiskan 2 potong roti sama-sama.

mbahMungkin sudah 10 tahun lewat ketika si mbah mangkat. Melihat jasadnya, layaknya si mbah sedang tidur pulas. Wajahnya penuh senyum, damai sekali. Saat itulah pertama kalinya saya mengusap dan mencium sosok yang telah membeku, Tak lagi diam dan duduk jauh dari ruang duka. KEdekatan saya dengan si mbah, tak sedekat kedekatan si mbah dengan kakak saya yang laki-laki. Tapi, kepergiannya membuat saya belajar banyak.

Sosoknya lebih banyak diam. Tapi begitu banyak cerita yang mengalir ketika saya duduk di dekatnya. Semangatnya ketika mengarungi laut, selalu menjadi cerita utama. Atau ketika dia membangun jembatan menyambungkan satu desa ke desa lain, selalu membuat saya terpesona. Ah Mbah, aku kangen..

Advertisements

1 Comment

Filed under jurnal

One response to “Si Mbah

  1. Kematian itu seperti sandi yang tidak terpecahkan. Meski tidak bisa memahami, kita selalu mendapat kiriman. Bahkan ratusan sandi perharinya.

    Kita hanya tahu bahwa kematian itu ada. Selain itu, kematian mengingatkanku pada sebuah batas. Ya….batas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s