Setelah Lebaran

LEbaran identik dengan makanan yang berlimpah ruah. Ada opor ayam, ketupat, sambal goreng ati, rendang, kue legit –yang telurnya 129 itu lho– belum lagi aneka kue kering dan kacang goreng. Wuihh…

tarsiusDulu, saya sangat menikmati semua penganan itu. Sekarang 😦 harus berpikir 1000 kali untuk ‘menghajarnya’ . Masalahnya sedikit saja masuk ke perut, maka bertambah pula lah tubuh ini beratnya. Belum lagi ancaman kolesterol dan lain sebagainya.. hahaha, maklum lah sekarang kan sudah bukan jaman kuliahan lagi, yang berapapun makanan yang masuk, berat tubuh sih adem ayem saja.

Satu hal yang tak bisa dihindarkan adalah sate atau segala sesuatu yang dibakar. Busyet kan? Padahal lebaran ini, paling tidak ada dua acara BBQ yang tak mungkin dilewatkan. Hemmm.. Jadilah saya ini seperti kucing putih ini..:-( Hiks…

Advertisements

3 Comments

Filed under jurnal

3 responses to “Setelah Lebaran

  1. gara-gara aku mudik kemarin, satu ekor angsa putih tewas mengenaskan. mati di tangan ayahku sendiri. tapi, setelah opor tokoh Hans Christian Andersen itu tersaji di meja makan. uihh, alotnya minta ampun. tanpa pikir panjang, belbu pun jadi pengganti….

  2. Ah kalo gue jadi elu sikattt abisss. satu bulan berpuasa, rasanya ingin mencari kenikmatan dalm bersantap…..

  3. alhamdulillah akhirnya sadar juga itu yang empunya perut…
    But, kok masih buncit ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s