Monthly Archives: November 2007

Janji

Ketika memikat para pengikutnya, cobalah perhatikan apa yang diucapkan para calon pemimpin. KEhidupan akan damai sejahtera. Tak ada lagi banjir, tak ada lagi macet, BBM tak akan naik, bahan pokok tak akan naik. tidak ada inflasi. Bla..bla..bla..

tarsiusSetelah menjadi pemimpin, semua janji hanya tinggal janji. Air masih menggenangi berbagai kawasan, soal macet tak usah ditanya lagi. BBM bahkan terancam naik lagi. Bahan pokok yang naik saat lebaran pun tak kunjung turun.

Kita hanya bisa diam. itu nasib sebuah bangsa. Mungkin tak hanya terjadi di negeri tercinta ini. Bagaiman dengan janji kita sendiri, pada teman, tetangga, pacar, kekasih gelap, istri, suami, atau bahkan sama kucing kita?

Terus terang, saya sendiri, sampai sekarang masih belum bisa memenuhi janji untuk memandikan my lovely cat, Ammar Jr. Padahal kata dokter, si Ammar Jr ini harus dimandikan seminggu sekali. Itu kalau saya gak mau si kutu yang merusak bulu-bulunya yang indah itu menyerang lagi. Yahh.. kesempatan pulang ke rumah Ammar saja saya belum sempat. Besok, saya punya waktu day off sehari, mudah-mudahan bisa janji itu dipenuhi.

Janji, Continue reading

6 Comments

Filed under jurnal

Panas

Sudah dua hari ini, Jakarta panasssssssss banget. Kacau memang cuaca akhir-akhir ini. Seharusnya, teori di atas kertas bulan ini hujan. Ternyata matahari bersinar garang. Yang lucu kemarin, siangnya panassss,, eh sorenya mendung terus angin besar sekali, sampai pohon di depan rumah meliuk-liuk.

tarsiusSaya seringkali tidak mengerti soal cuaca akhir-akhir ini. Dulu, orang-orang bilang, tinggal di Indonesia ini surga. Hujan dan panas mudah memprediksinya. Kalau di luar sana, konon keman-mana harus bawa jacket dan jas hujan, karena cuaca bisa tiba-tiba saja berubah. Meski begitu, ada musim-musim yang jelas. Kalau bulan yang ujungnya pake ‘ber’ begini biasanya teman-teman yang tinggal di Eropa segera bebenah melancong ke negeri yang masih hangat. Itu semua bisa direncanakan.

Di Negeri kita tercinta ini, sekarang ini sulit memprediksi musim hujan dan musim panas . Ya seperti sekarang ini, harusnya hujan tapi matahari masih terik . Apakah sang cuaca di Indonesia ini lagi cari perhatian ya? Boleh jadi! Kabarnya, Desember awal ini para ahli, pemerhati dan orang-orang yang konon peduli lingkungan dari berbagai penjuru dunia bakal datang ke Bali. Katanya sih mau menggelar konvensi internasional tentang perubahan iklim global. Yahh..coba deh kita lihat saja, cuaca selanjutnya.. Yang pasti, hidung sudah mulai terganggu ni gara-gara udara berubah-ubah terus..hiks…:-(

4 Comments

Filed under jurnal

Menghapus Jejak

Ingat lagunya Peterpan yang baru? Yang video klilpnya itu ada Dian Sastro itu lho.. Loncat-loncat, muter-muter ke sana kemari, trus hujan… Biarlah hujan menghapus jejakmu…

tarsiusHehe.. lucu juga tuh lagu. tapi ya kok gampang memangnya menghapus jejak itu ya? Bagaiman, kalau jejaknya tercetak di semen yang masih basah? Terus keburu kepanggang sinar matahari? Barangkali buldozer lah satu-satunya alat yang bisa menghapus jejak yang tercetak di semen itu. Pada prakteknya, memang tak sesederhana hujan menghapus jejak itu.

Weekend kemarin juga saya mencoba menghapus sebuah jejak. SIapa tau berhasil gitu, siapa tahu peterpan bener segampang itu menghapus sebuah jejak. Terbanglah (sekalian kerja deh) saya ke sebuah pulau kecil di ujung selatan Sumatera. Suasana pedesaan yang nyaman sempet membuat hati rileks.. Nongkrong di warung kopi di salah satu sudut pasarnya, sambil makan kue Tjung (mirip bacang berukuran kecil terbuat dari ketan isinya irisan daging ayam), terus nyeruput teh pahit yang manis, wahhh asyik sekali deh. Ingatan soal kota besar dan segala keruwetannya, dan sosok yang selalu dikangenin sempet melabur. Sampai, suatu pertemuan dengan para kerabat di kota itu, munculah sosok yang mirippppppppp 80 persen lah dengan sang jejak tadi.. 😦

Begitulah, akhirnya – suratan takdirnya–, acara saya menghapus jejak ternyata tak berhasil. Semua ingatan kembali bak air terjun jatuh ke bumi. Halah..

7 Comments

Filed under jurnal

Halilintar

Ada dua halilintar yang saya tidak suka. Pertama, halilintar yang ada di wahana permainan Ancol itu. Dari kecil, saya paling gak suka dengan permainan yang diputer-puter di ‘angkasa’ itu. Kebayang saja, alatanya bisa macet, atau malah langsung copot dan penumpangnya bergugursan semua. Hiyyy… Nah, ternyata ketika nonton berita televisi tadi sore, mimpi buruk saya itu kejadian. Di salah wahana permainan di Kota Semarang, serombongan ibu-ibu (dari instansi apa gitu saya lupa), ‘berjatuhan’ dari alat yang sedang mengangkatnya ke atas (saya lupa apa latanya juga namanya halilintar atau bukan). Wuaduhh.. untung saja mereka masih selamat, meski ada beberapa yang patah tulang lengan, kaki, mungkin juga punggung.

tarsiusBUkan takut ketinggian, tapi kepastian keselamatannya itu lho. APa benar mereka mentera alat-alat itu dengan benar dan sesuai aturan. Dengan keyakinan itu, saya juga pernah nekat diikat kakinya dan terjun bebas ke sungai dari atas ketinggian 45 meter. Jaminan nama besar Aj Hacket lah yang membuat saya berani bungy jumping di jembatan AUckland. Meski beberapa kali sebelum terjun saya tanya pada operator bungy nya, apakah ini aman? apakah pernah ada korban.. sampai-sampai operator ganteng itu menepuk-nepuk bahu saya.. “It s safe.. totally,” ujarnya.. Hmm… meski sadar no body perfect, saya terjun juga… dan Continue reading

3 Comments

Filed under jurnal

Tragis

Cerita ini sih sebetulnya kejadiannya seminggu lalu. tapi baru diingatkan lagi waktu lihat tayangan Selamat Pagi nya Trans7. Di salah satu sesinya, si pembawa acara menghadirkan seorang mantan siswa SMA kelas 1 yang telah di’siksa’ para seniornya di sekolah tersebut. Fisik si anak sih saat itu sepertinya baik-baik saja. Kejadian sudah beberapa bulan lalu. Tapi si Bapak membawa hasil foto X-ray tulang lengan anaknya. Salah satu tulangnya terlihat patah. Duh..

tarsiusTragis, luka fisik itu mungkin bisa sembuh, tapi mungkin saja bisa cacat. Saat itu, saya berpikir, apakah si senior itu sempat berpikir saat nggebukin si junior, bahwa mereka bisa saja menutup salah satu pintu masa depan juniornya. Ketika tulangnya lengan si junior patah dan cacat, apakah mungkin siswa yang menjadi korban itu bisa diterima di akademi militer yang mensyaratkan kemulusan tulang-tulang tubuh siswanya? Paling tidak, saat itu, itulah yang terlintas di pikiran saya. Boleh jadi akibatnya tak ‘sesederhana’ itu, Secara mental, mungkin bisa lebih buruk. Paranoid, trauma..

Itulah yang terjadi Continue reading

9 Comments

Filed under jurnal

Fashionesta

tarsiusMacet ternyata ada juga hikmahnya. Paling tidak saya bisa mengamati aktivitas di pinggiran jalan. Seperti kemarin pagi. Di salah satu sisi di kawasan arteri Pondok Indah, saya lihat seorang ibu sedang menunggu kendaraan. Yang menarik perhatian saya saat itu, adalah caranya berpakaian. Casual, bercelana panjang dipadu kardigan dengan warna senada ditambah selembar scarf yang diikat gaya di lehernya. Belum selesai, warna senada masih menghiasi tutup kepalanya yang berlidah lebar, alias topi lebar. Lengkaplah sudah si ibu ini ‘berlindung’ dari serangan sinar matahari yang tumbennya saat itu memang cukup cerah. Apalagi kaca mata hitamnya pun ikut bertengger di wajahnya yang kelihatannya sudah cukup berumur.

Topi lebar, itulah yang menjadikan saya agak merenung. Dari sisi situasi kondisi, topi itu pas-pas aja dikenakan si ibu. Daripada kebakar sinar matahari? Tapi dari sisi culture, Indonesia tampaknya gak terbiasa kalau para wanitanya mengenakan topi gaya Queen Elizabeth itu. Di jalanan , naik bus umum lagi. Beberapa orang, bahkan saya perhatikan tampak menoleh dan memperhatikan si ibu itu. Hmm,

Anehnya orang Indonesia, memang kadang-kadang membingungkan. Yang benar dan pada tempatnya dianggap error. Menggunakan bahasa Inggris dalam obrolan saja, misalnya sering jadi ledekan. Wahh sok inggris lo… Weleh…kapan dong anak anak Indonesia siap meng-global? Whaz Up Guys?? Sama judulnya kok gak nyambung yak… 😉

7 Comments

Filed under jurnal

:-(

😦 Itu icon yang paling sering akhir-akhir ini saya buat. Bentuknya dibuat dari dua titik sejajar ditambah strip minus dan tanda kurung buka hasilnya icon lagi cemberut.

Maunya sih pakai kurung tutup jadi bisa membentuk icon yang lagi tersenyum. Tapi, bagaimana mau tersenyum, kalau yang ditunggu gak pernah nongol. Malah pernah ada komentar, kok kelihatannya muram aja. Halah…masih saja bertanya. Tambah cemberut deh…

ANyway soal icon, saya salut banget sama pencipta icon ini. Yang paling menakjubkan icon setan dengan wajah cokelatnya, bahkan dengan hiasan tanduk di atas kepalanya >:). Terus ada juga icon dengan mata berkedip genit ;;), terus ada yang lagi mabuk 8-}. Bahkan ada kepala monyet :(l), atau yang romantis bunga @};-

Ekspresi seseorang memang bisa digambarkan ya. Tapi yang penting, ekspresi itu bisa ditangkap atau tidak…kalau tidak, ya percuma saja lah….:-)

2 Comments

Filed under jurnal