Tragis

Cerita ini sih sebetulnya kejadiannya seminggu lalu. tapi baru diingatkan lagi waktu lihat tayangan Selamat Pagi nya Trans7. Di salah satu sesinya, si pembawa acara menghadirkan seorang mantan siswa SMA kelas 1 yang telah di’siksa’ para seniornya di sekolah tersebut. Fisik si anak sih saat itu sepertinya baik-baik saja. Kejadian sudah beberapa bulan lalu. Tapi si Bapak membawa hasil foto X-ray tulang lengan anaknya. Salah satu tulangnya terlihat patah. Duh..

tarsiusTragis, luka fisik itu mungkin bisa sembuh, tapi mungkin saja bisa cacat. Saat itu, saya berpikir, apakah si senior itu sempat berpikir saat nggebukin si junior, bahwa mereka bisa saja menutup salah satu pintu masa depan juniornya. Ketika tulangnya lengan si junior patah dan cacat, apakah mungkin siswa yang menjadi korban itu bisa diterima di akademi militer yang mensyaratkan kemulusan tulang-tulang tubuh siswanya? Paling tidak, saat itu, itulah yang terlintas di pikiran saya. Boleh jadi akibatnya tak ‘sesederhana’ itu, Secara mental, mungkin bisa lebih buruk. Paranoid, trauma..

Itulah yang terjadi pada salah satu keponakan saya. Minggu lalu, dia pamit untuk ikut kerja bakti sosial dengan angkatannya di sebuah perguruan tinggi swasta di Bogor. Pulangnya, ternyata pipinya babak belur. Kok bakti sosial jadi babak belur begini? Dulu jaman saya kuliah, bakti sosial itu bawa oleh-oleh pisang. Kok malah sekarang dia merah biru begitu pipinya. Sayang, keponakan saya itu tak banyak bicara. Hanya menunduk diam. Setelah lama, akhirnya dia mau bicara juga pada tantenya yang lain yang lebih sabar mengajak ngobrol remaja semacam dia. Cerita nya : ternyata dia sukses digamparin seniornya. Bahkan kabarnya temannya ada yang pingsan. Kok bisa?

Dia, dan teman korbanya yang lain tidak berani bicara. Nanti saya malah diancam senior. Nanti saya gak bisa bergaul di kampus, nanti saya… nanti saya…. . etc.. Setiap pembicaraan menyentuh soal arogansi seniornya, dia hanya duduk terdiam. Pandangan patanya entah nyangkut di mana.

Saya kira, masih banyak siswa lain yang senasib. Demi ‘karier’ nya di kampus atau di sekolah, si anak memilih diam. Tapi sebagai orang bijak, apakah kita patut mendiamkannya? Apakah harus ada seorang ‘Cliff Muntu’ lagi yang menjadi korban, sehingga para senior atau para dosen atau para guru baru peduli pada arogansi para senior ini?? Tragis!

Advertisements

9 Comments

Filed under jurnal

9 responses to “Tragis

  1. Bullying ya… Makanya sejak dahulu kala aku gak setuju sama yang namanya Opspek dan sejenisnya. Pokoknya, sekolah ya sekolah saja. Kalo mau kelahi, ikut saja klub tinju atau karate. Tapi jangan dipraktikan untuk menghajar teman.

    Saya setuju kalo pelaku bullying itu dihukum menggunakan hukum pidana saja, biar kapok…

  2. Jadi inget pas kuliah dulu, pas Orientasi sempet ada perlakuan kurang enak dari senior (gak sampai fisik sih), tapi waktu itu kita para junior rame2 marah dan protes, akhirnya hal itu gak terulang. secara juniornya kan lebih banyak daripada seniornya πŸ˜€

  3. kw

    prihatin dengan kejadian yang menimpa keponakannya. semoga seterusnya dia baik-baik saja.
    semua harus ada yang mengawali, lapor saja ke polisi.

  4. Ini hal yang serius dan perlu diluruskan. Sebenarnya eksistensi dari para senior bukan melalui jalan kekerasan spt itu. Tapi dibuat bahwa dia sebagai guru yang lebih berpengalaman dan bisa memberi bimbingan. Harus dikeluarkan peraturan ataupun dibiasakan paradigma berpikir demikian. Agar semuanya bisa saling mendukung.

  5. menyedihkan melihat kejadian2 seperti itu. sepertinya ada yang salah dalam pengelolaan pendidikan di Indonesia. kalau masih sekolah atau kuliah saja sudah menggunakan kekerasan (atas dasar senioritas), bagaimana kalau mereka sudah terjun ke masyarakat, mungkin bhs yg digunakan adalah bhs kekerasan juga.

    ehm btw gimana kabarnya Ammar si kucing keren itu?

  6. Salah didik dan salah urus hasilnya ya sangat bermasalah. Kalo senior pengen eksis mbo yach kagak usah bgt caranya. ajak aja juniornya berdiskusi dengan tema yang positif dan membangun. waktu dulu kuliah, ospek universitas ada danlap nyang belagu dan arogan. udah dech pas baru selesai ospek ama anak mahasisw baru alias maba langsung digebukin, biar tahu kalo belagu kena deh palelu. udah deh dari situ sy males ikutan ospek selanjutnya di fakultas dan jurusan. toh buktinya gak ikutan ospek gak ngaruh apa-apa ama nilai kuliah. jadi mendingan liatin temen2 yang diospek aja hehehe. abis gak ada kerjaan banged.

  7. thx semua buat keprihatiannya. Sistem memang sulit diubah, tapi –mungkin– mulai dari diri kita sendiri dan lingkungan kecil di sekitar kita, sistem arogan yang tdk bertanggungjawab itu bisa dihapus. (bijak banget yak ..)

    Om Aris, Ammar Jr si keren itu baik2 sj, mg lalu baru dibawah ke dokter hewan, kupingnya brodol sama kutu kucing.. sy sendiri udh lama gak nengok (tinggalnya di lain kota sih)– tapi kayaknya skrg jadi ganteng lagi deh.. πŸ™‚ salam katanya πŸ™‚

  8. tjtj

    San, komen ya…hihihi telat….

    Emang senioritas itu menyebalkan. Dibilang nggak perlu juga enggak, soalnya perlu juga sih sebagai yunior kita kenalan sama senior, dikerjain juga gpp, tapi dikit-dikit aja, beberapa tahun kemudian kalo diceritain lagi jadinya lucu, bukan dendam. Trus pas jadi senior kita demen aja ngerjain yunior dikit-dikit. Tapi kalo udah kebablasan, trus jadi bullying, suka bikin kita mengelus dada juga. Batasnya apa kebablasan atau enggak? Balik ke hati nurani aja. Ini yang susah sih. Bener kayak Susan bilang, inget-inget apakah anak yang kita kerjain bakal trauma apa enggak, bakal gagal test militer apa enggak. Gitu kali yeeee

  9. Manusia itu memang hewan yang punya akal budi. Kalau akal dan budinya hilang memang yang tersisa hanyalah kebinatangan.

    Bicara tentang kekerasan yang kasat mata itu sudah lumrah. Sebagai makhluk yang terus memakai akal budi memang mudah untuk mengutuk. Namun, lebih dari itu, yang lebih parah lagi adalah kekerasan non fisik.

    Skripsiku mengangkat kekerasan non verbal dalam film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Studi Semiotik. Temuan saya adalah ada kekerasan tersembunyi dalam budaya berpakaian. Dalam penelitan kecil itu, perempuan di film tersebut, Nunung namanya, cenderung tertekan, sebagai korban kekerasan verbal ketika berpakaian kebaya. (he..he…sama seperti ketika si pemilik blog ini merasa lebih rileks ketika pakai celana bukan rok seperti hari ini kan). Fashion itu salah satu indikasi adanya kekerasan.

    Dan…kekerasan selalu ada. Tapi setidaknya tidak lahir dari kita ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s