Monthly Archives: January 2008

Senyum Yok.. :-)

Kemarin sore, sambil minum teh di sebuah warung, teman saya sedikit protes. Masalahnya saya jarang tersenyum akhir-akhir ini. Kaget juga, masa iya begitu? Katanya ‘rame’nya saya juga ngumpet tak tau ke mana. Halah.. Sungguhkah?

tarsiusTeh itu sudah habis. Saya melirik ke tengah meja, ada kue cokelat yang di atasnya ‘ditaburi’ dua potong stroberi. Kalau di’coel’ sedikit pake sendok kecil, lelehan cokelat hangat di dalamnya pun bakal keluar. Dulu sih, rasanya enak bener, tapi kemarin malas banget saya coel kuenya itu.

Senyum, satu kata itu kepikiran juga semalaman. Tadi pagi, saambil mengikuti arus macet saya tekan tombol radio, berkali-kali, sampai akhirnya terdengarlah suara favorit saya, dua sekawan Daging & Desta yang seringkali membuat saya kayak orang gila, karena Continue reading

2 Comments

Filed under jurnal

30 Hari

Hidupnya mungkin tak lebih dari sebulan. Mendengar sebuah eksekusi, meski bukan untuk diri sendiri, rasanya tak tergambarkan. Memandang sosok itu, jadi tak segampang biasa. Setiap kalimat rasanya penuh air mata. Sedih..

tarsiusMeski percaya hanya Yang Maha Kuasa lah yang maha tau dan menentukan, tapi rasanya waktu berhenti berputar. Obrolan terasa hambar. Sepertinya semua cara untuk menghentikan penyakit yang ada di dalam tubuhnya tak berguna lagi.

Tak terbayangkan bagaimana kelak jika sosok itu benar-benar pergi. Apakah saya bisa mengatasi rasa kehilangan itu? Pagi tadi saya baca tulisan FraterTelo tentang kehilangan. Satu sisi saya mencoba untuk menjadi manusia tegar, semua yang ada di dunia ini hanya titipan, semua milikNya. Sisi lain, saya termasuk manusia lemah. 😦

Ah… semoga saja keajaiban itu datang. Saya tak sanggup jika hari itu tiba.

Ada sajak Subagio Sastrowardojo yang dikutip Goenawan Mohamad pada capingnya minggu ini tentang apa yang dimiliki manusia :

Tak ada yang kita punya

yang kita bisa hanya
membekaskan telapak kaki,
dalam, sangat dalam,
ke pasir
Lalu cepat lari sebelum
semua berakhir….

6 Comments

Filed under jurnal

Tempe

Cerita tentang tempe yang semakin lama sulit dicari ini juga diprotes Ammar Jr. Kenapa?? Selain ikan segar, si kuning belang ini juga gemar tempe goreng. Sama dengan ’emak’nya ini, lho. Kami berdua biasanya paling asyik makan berdua di halaman sambil gado tempe goreng. Tapi, si AMmar ini, tempe gorengnya harus dibelah dulu, biar bau tempenya jelas kecium. Sekali makan biasanya habis 2-3 potong sedang.

tarsiusLucunya, sekarang si Cantik, salah satu istrinya juga jadi hobi makan tempe goreng yang dibelah itu. Biasanya, kalau si Cantik datang, si Ammar Jr mengalah dulu, memberikan gilirannya makan tempe goreng. Setelah si Cantik kenyang, barulah mata indahnya itu memandang saya minta diberi tempe goreng. APalagi kalau dia lihat di piring saya tempenya masih ada (padahal memang sengaja saya sisakan buat dia)..hehe..

Sekarang? Si AMmar sepertinya cukup makan ikan segar saja. Selingan tempenya terpaksa distop dulu. habis mau beli di mana?

4 Comments

Filed under kucing