Trust, Love and Pride

Updated :Tulisan ini sudah saya posting Agustus tahun lalu. Sengaja saya posting lagi. masalahnya, tadi sore saya dapat lagi cerita yang sama. Gemes, tapi masih belum punya tenaga untuk nulis lagi. Coba deh simak, siapa tau ini terjadi pada keluarga sendiri.. Duhh mudah-mudahan tidak ya..

————–

Maaf ya cuma judulnya saja yang ‘n-english’. Tulisan ini idenya dari hasil obrolan saya dengan seorang teman lama kemarin siang lewat telepon. Setelah ngalor ngidul, topik pembicaraan beralih pada soal keluarga. Katanya, banyak temannya sekarang yang masih bertahan dengan status sebagai suami istri dan tinggal serumah, tapi hubungannya sudah hambar. Hambar? Ya, mereka masing-masing cari kesenangan di luar rumah. SI istri asyik pacaran dengan lelaki lain, suaminya pun begitu. Lho? Kalau sudah begitu, kenapa gak pisah atau cerai saja sekalian. Katanya sih demi anak-anak, mereka berthan dengan statusnya itu..

loveHemmm.. Konon kehidupan seperti itu sudah tren di antara pasangan yang telah menikah sekitar 10 tahun-an itu. Rasa antara suami istri itu sudah tak ada lagi. Greng pasangan pengantin baru, konon sudah hilang… Tapi demi anak-anak, mereka masih bertahan, tapi sepakat utnuk mencari kesenangan di luar rumah..

Saya bertanya, demi anak-anak itu apa maksudnya? Katanya sih, anak-anak tetap mendapat perhatian moril maupun materil setiap hari. Begitukah? Saya sempat beragumentasi panjang. Bagaimana anak-anak itu akan mendapat perhatian secara benar, kalau ibu bapaknya masing-masing asyik di luar rumah ? Ahh, asyik-asyiknya kan cuma sesekali saja, katanya. Busyeett.. Bapak ibunya kan tetap bisa kasih bimbingan sama anak-anak itu, katanya lagi. Termasuk moral? tanya saya. ya dong!

Okey. Setiap orang memang punya hak untuk menentukan kebahagian mereka. Tapi dari kecil saya gak pernah percaya dengan sesuatu yang bersifat teori saja. Sekarang bayangkanlah jika idola ANda (bapak, ibu, kyai, pendeta, siapapun itu) ternyata melakukan sesuatu yang dianjurkan untuk tidak dilakukan. Atau Anda memergoki idola Anda itu berbuat sesuatu yang justru dilarangnya. Memergoki ibu pacaran dengan lelaki yang bukan bapaknya, misalnya. Hmmmm… tak terbayangkan kecewanya kan??

Jika hal tersebut terjadi (meski kemungkinannya kecil), tentu sulit memulihkan kepercayaan yang telah terbangun. Dalam kecewa, banyak kemungkinan bisa terjadi, termasuk munculnya kebencian yang aplikasinya bisa berbagai hal, termasuk hal-hal negatif, yang saya gak tega deh nulisnya di sini. Jika hal ini terjadi pada anak-anak yang orang tuanya punya prinsip serumah tapi asyik di luar itu. Bagaimana ya? Dimana kepedulian mereka terhadap perkembangan anak-anaknya dari segi moral?

Soal moral saya memang tak punya hak untuk bicara. Saya hanya peduli pada anak-anak. Jika Love, Trust, and pride itu sudah tak ada lagi di antara suami istri, buat apalagi dipertahankan? Tetap bersama, sama saja dengan membohongi diri sendiri. Ujung-ujungnya bakal gak happy. Bagaimana seseorang yang tak bahagia bisa mendidik anak-anak dengan baik?

Advertisements

29 Comments

Filed under jurnal

29 responses to “Trust, Love and Pride

  1. makanya, kalo mau merit tanya dulu: bener-bener cinta atau cuma cinta sesaat? kalo sudah berani merit, tapi masih selingkuh, ya namanya nggak cinta lagi. terus kenapa dulu merit? parah…

  2. patrianila

    Aku sudah menjalani hidup rumah tangga setahun lebih lamanya. Rasanya persoalan dalam keluarga memang sudah teringkas meski hanya kilatan-kilatan. Setelah waktu bertambah kilatan tersebut pastilah tambah besar dan begitu pula dengan intensitasnya.
    Bukankah setiap pasangan memang memiliki persoalannya sendiri-sendiri.

    Cinta tidak hanya rasa, tetapi juga memerlukan kerja dan usaha untuk menghadirkannya kembali. Cinta seperti dalam lagu dan reka imajinasi hanya akan terjadi untuk dijadikan kenangan. Kenangan yang akan terus menjadi bahan bakar untuk mengusahakan hadirnya kembali cinta yang menggelora.

    Aku menjadi salah satu orang yang meyakini bahwa pernikahan harus dijaga. Bisa jadi dalam perjalanan waktu tidak bahagia. Tapi itu soal lain, Semua orang memang mengangankan dan mengejar kebahagiaan. itu manusiawi. Tetapi kalau tiba-tiba pasangan kita jatuh sakit, jatuh miskin, jatuh sengsara dan semuanya terseret apa lantas minta cerai dan cari yang lebih segalanya. Bukan seperti itu perkawinan yang aku pahami. Sekali sampai mati.

    Ini di luar konteks kekerasan lo. Kalau ketidakbahagiaan karena seseorang menyiksa yang lain jalan terbaik memang berpisah. Kalau hanya untuk mencari sekadar happy rasanya ada pilihan yang lebih baik.

    Aku mencobaa membayangkan ceritamu. Dan sampai sekarang aku masih heran kenapa mereka masih bisa bertahan satu rumah.

  3. Rifwan

    Kata SM di Kompas Minggu
    Isteri = TV
    Pacar = hp
    1. Di rumah nonton tv, keluar rumah pasti bawa HP
    2. Tidak punya uang jual TV, dapat uang ganti HP
    3. Sesekali nonton TV, tapi lebih banyak bermain dengan HP
    4. TV bisa dinikmati secara gratis, tetapi HP mesti bayar pulsa, dan kalau tidak membayarnya, service akan terhenti…..

    Komentar saya :
    Memang tidak mudah untuk menghadirkan keluarga ideal. Banyak pengorbanan dan proses yang panjang untuk mewujudkannya. Proses ini tidak hanya terbatas ketika telah menikah saja, tapi dimulai pada kesiapan calon suami dan calon istri untuk mempersiapkan segala hal. Termasuk ketepatan dalam memilih calon pendamping seperti komennya Mas Puji. Setelah menikah suami sebagai pemimpin keluarga, maupun istri atau ibu sebagai pendamping sang pemimpin harus bekerja keras mendapatkannya. Selain itu anak pun harus dilibatkan dalam memperjuangkannya.

  4. hmmm, ini namanya komentar yang provoking… nice comment..

  5. Pada dasarnya sifat manusia itu memang sudah diciptakan dari sananya (atas kalee) selalau ingin mencari yang baru (tantangan..??) entah itu namanya, yang jelas kata “monoton” lebih tidak disukai dari pada kata “variasi”.

    Selain alasan-alasan yang ada, mungkin itu salah satu alasan permulaan kenapa suami/istri sering menggoda/tergoda oleh hal-hal baru, awalnya sih sekedar ngobrol…cerita sana-cerita sini…lama-lama asik…besoknya jadi kangen ingin cerita…minggu depan rindu mendenger cerita…lama-lama ada kecocokan.

    Sejurus dengan itu hubungan di keluarga jadi mendapat imbas…terjadi cekcok, yang keluar kata-kata kasar…akhirnya yang diingat dari pasangan bukan hal yang baik-baik tapi justru hal yang jelek-jelek kalau bisa di jelek-jelekin biar lebi seru…ehhh lebih jelek.

    akhirnya…ya itu cerita teman kita diatas…!!!

  6. Sifat manusia yang infinitive? Sebenrya itu semua ada tuntunannya. cara2 mencari pasangan, apa dasar kita milih dia dsb.

  7. Y!

    Hmmm gimana ya… Percaya atau nggak, gw termasuk salah seorang yang masih percaya pada pepatah “seganas2nya harimau, pasti gak bakal makan anaknya”, begitu pun juga pada manusia. Tapi buat manusia, yang gw ambil bukan konotasi plek dari pepatah yang itu, melainkan yang ini… “Sebejat2nya orangtua, pasti gak pengen ngeliat anaknya ikutan bejat”. Itu manusiawi banget, dan menurut gw itu sesuatu yang harus kita syukuri, karena Tuhan masih berbaik hati.

    Gw juga orang yang masih percaya pada pernyataan “pasti selalu ada alasan dibalik kelakuan/ perilaku/ perbuatan seseorang”. Gw bukannya pengen “membolehkan” atau “melegalkan” sebuah kebejatan tapi, gw juga yakin pasti Tuhan punya alasan kenapa sampe akhirnya ada pepatah itu. Mungkin salah satunya akan bermuara pada “Pembelajaran diri” atau “Hikmah” atau “Pencerahan”.

    Kalau menurut gw, soal moral itu ga bisa diperdebatkan. Karena kalau diperdebatkan pasti akan memunculkan sosok yang “Sok Paling Bener”, “Sok Paling Pinter” atau Sok-Sok lainnya. Soal moral cuman bisa ditunjukkan, dilihat, lalu kalau perlu, kemudian diingatkan. Itupun tidak dengan cara berdebat, tapi sebaiknya mungkin dengan cara ditunjukkan, dilihat dan kemudian diingatkan. Begitu seterusnya. Mungkin ini bisa dijadiin renungan.

    Kadang gw suka merasa, “gw benci sama kakak gw, tapi gw kok marah juga kalo ada orang yang ngomongin jelek atau menghina dia”. Kenapa…? Terus terang, sampai sekarang kayaknya gw gak bisa tuh menampakkan sikap manis sama dia. Cuman… ya itu dia… orang itu tetap kakak gw, dan itu jadi bagian dari warna kehidupan gw. Hehehe…

  8. nuini hikmat

    hai Nne…we miss you…
    kita emang baru setahun lebih nikah dan baru dikaruniai seorang baby *Jante, Mom love you*, berumah tangga tak lepas dari masalah. mungkin skr sy baru memulai beradaptasi dengan kehidupan baru memang perlu kesabaran yang ekstra. gak luput deh yang namanya manusia itu pasti ada kurang dan lebihnya. tapi saat ini menurutku dan suamiku selalu berprinsip “nikahilah orang yang kau cintai dan cintailah orang yang kau nikahi.” mengenai masalah dalam rumah tangga memang selalu ada. tinggal gimana kita menyikapinya (memang klise) tapi kita tentunya ingin memilih hidup tenang dengan pasangan kita. so bener juga kalau sudah tak cinta, tak percaya dan tak bangga dengan pasangan kita untuk apa hubungan dilanjutkan, hanya bakal nambah dosa aja…. bahagia kita semata-mata bukan bertahan karena anak-anak kita tapi bahagia kita untuk kita dan anak-anak kita, karena itu Setia Keluarga Keluarga Setia….okey Jendril he he he 🙂 salam dari Ammar

  9. Pingback: Serunya Hari Ini… « Ammar ’s Stories

  10. Pingback: 10 Kan S » Trust, Love and Pride

  11. Komentarnya dalam semua, bagus buat masukan …..

  12. wah sepakat sobat
    ternyata kau pandai juga ya berargumen ria 🙂

  13. kalo postingan gini, gw jadi ngeri berumah tangga, itu yang paling saiah takutkan kalo married suatu hari nanti, hambar…. bayangin serumah dengan pacar, yang kadang2 ngajakin berantem. Gmana tuh ya solusinya tapi ada benernya juga mas PATRIANILA : “Cinta tidak hanya rasa, tetapi juga memerlukan kerja dan usaha untuk menghadirkannya kembali.”
    Dan pernyataan itu harus disepakati oleh pasangan itu, bukan hanya salah satu dair mereka ya kan….

  14. mo kawin malah jadi pikir2 ni… banyak godaan rek !

  15. tadi siang… temen kantor gw, seorang ibu muda… baru dapet musibah… suaminya kepergok lagi maen dengan cewek lain… ohhh…. menyedihkan

  16. Tips buat yang mo nikah:
    Mas kawinnya garem aja, jadinya pernikahannya ga hambar dan ga ada deh selingkuh2an
    😛

  17. iya ya
    gara2 keegooisan orang tua, anak jadi korban

  18. kalo menurut saya sih, sebelum nikah, belajar pahami, memaafkan dan terima diri sendiri dulu, kalo ngga gimana bisa nerima orang lain (istri/suami).

  19. kw

    kalau memang tak niat berkomitmen, tak usahlah menikah. mending tak punya pacar (tetap) aja. 🙂

  20. hikmah memiliki keuturanan adalah untuk memperat hubungan suami istri? Kalau awal tidan mencinta mengapa punya anak?

  21. Kalo emang bener-bener inget anak, pasti pacarannya berhenti deh.

  22. supaya anak jangan jadi korban makanya sebelum merit tuh puas-puasin deh masa mudanya he…upz sorry becanda..intinya sebelum terlanjur basah dipikir-pikir dulu deh…

  23. semoga anak-anaknya tabah…

    yang sabar ya nak.. lho?

    Ibu bapakmu sedang mencari jati diri

  24. Aku masih tidak bisa mengerti mengapa seseorang bisa berpikir untuk selingkuh…?

  25. dunia sudah mulai gilaaaaa 😦
    Orangtua yang berulah, anak2 yang tersakiti 😦
    Plis Stop it !
    dan jauhkan semua hal ini dari keluarga kami semua yaa Rabb.. Amiin 😦

  26. masmoemet

    @bunda
    amien …

  27. yeps… aku juga punya temen gituh.. jadi dari smp papa mamanya tinggal serumah tapi udah gak ngomong lagi.. territory si mama di lantai atas, papa di lantai bawah.. anak-anaknya jadi messenger.. gila banget.. walaupun gak pernah ngomong ke parentsnya, tapi anaknya sering banget curhat ke kita2 kalo dia rada stress dirumah.. hmm.. orang tua jaman sekarang.. knapa yah?

  28. pio

    spt prinsip suami gw San” choose your love and love your choose”.. dan menurut gw semua pihak yg terdekat harus mendukung adanya rumahtangga yg harmonis, misalnya sbg temen jgn jd kompor, sbg sodara jgn berpihak dsb.. tp spt temen lama gw yg skrg dah pisah dia nyimpen semuanya sendiri sampe kata pisah, dan dia nyesel krn ga pernah cerita ke siapapun, mgkn aja kan bisa ketolong kalau ada yg tau dan bantu menyatukan mereka.. pelik juga ya.. setuju, cinta memang harus dipupuk setiap saat, dan respect each other is the best! jangan takut menikah, pernikahan itu mengasyikkan –sama dg hobi gw yg berpetualang– banyak tantangan dan kebahagiaan..

  29. saya dari dulu selalu tidak suka dengan penggunaan anak sebagai alibi buat tidak berpisah karena punya ketakutan sendiri sendiri!
    rasanya jadi anak pun akan sangat tau apa yang terjadi pada ayah dan ibu dan tidak akan ada anak yang bisa merasa bahagia dalam keadaan orang tua yang demikian…kemungkinan besar sang anak pun sangat mengharapkan orangtuanya berpisah.
    Jangan pernah mempertahankan sesuatu yang memang tidak layak buat dipertahankan…setidaknya demikian menurut saya 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s