October 1, 2009

Apalagi?

Menulis di sini, sebetulnya seperti minum usai makan. Selalu ingin menulis apa saja yang teralami. Tentang Miyabi, tentang gempa di Jawa Barat, tentang sulitnya jadi pengungsi gempa, tentang keanehan seorang Noordin M TOp, tentang pelantikan anggota DPR/MPR, tentang klaimnya malaysia, tentang tsunami di pulau Samoa, tentang gempa di Padang, tentang gempa di Jambi.

Juga tentang si Cantiek (Istrinya almr Ammar Jr) yang baru saja melahirkan. Anaknya tiga, tapi katanya tak ada yang luriknya seperti si Ammar jr. ah!  Sejujurnya, semua tentang itu tersimpan dalam memori otak dan siap dialirkan melalui ketukan keyboard. Tapi ntah kenapa saya masih tak mampu berurai kata di blog ini. apakah itu semua penting saya ceritakan di sini? APalagi yang penting setelah AMmar pergi? Lebay! mungkin saja. Biar saja begitu. Menikmati ke’lebai’an itu ternyata nikmat. Berpura-pura tangguh itu capek.

Saya juga sekarang mulai menghapus satu per satu nomor kontak yang memang tak ingin dikontak. Sejak dulu menjadi orang baik, yang selalu memulai kontak itu ternyata capek. Saya ingin menjadi manusia se manusia-manusianya. Harus tega. Toh untuk apa lagi dipikirkan, jika mereka juga tak ingin dipikirkan oleh kita, iya, kan?

Ingat cerita almarhumah bunda. Katanya : kamu harus memilih mau menjadi elang atau burung pipit. Elang itu akan terbang menjulang mencampai angkasa, hijrah dari satu pucuk pohon ke pucuk pohon lain, karena dia sendiri.  Dia tidak pernah berpikir siapa di belakangnya, dan tak pernah repot memikirkan orang lain, karena itu badannya begitu tangguh, kuat, bulu-bulunya pun tebal mengilat.

Kalau burung pipit, mereka hangat karena banyak temannya, tapi tak pernah bisa mengarung angkasa. dia hanya diam di satu sarang. Selalu terbang bersama kelompoknya.

Siapkah saya menjadi Elang? yang tak peduli dengan sekitar? Apakah benar saya bisa tangguh tanpa mereka? Saya lupa bertanya pada bunda, apakah ada burung  yang bisa terbang tinggi, tapi juga banyak teman? Mungkin burung gereja?

Haha……

September 21, 2009

Setelah Lebaran

Setelah bersimpuh ketika hari kemenangan itu tiba, betulkah kita benar-benar telah menang? Menang menjadi manusia baru dengan hati seputih kapas? Sementara hati ini masih dipenuhi segala ‘aturan’ dan ‘keharusan’ yang belum tentu membuat orang lain juga sepakat.

Benarkah segala aturan yang tertulis itu bisa berlaku untuk semua orang. Betulkah yang digaungkan mereka yang selalu berdiri dan memberikan wejangan di rumah suci itu selalu bisa diaplikasikan dalam setiap perkara?

Mengapa kita selalu terpaku pada satu hal, mengapa kita tak peka terhadap apa yang ada di depan kita, mengapa kita tidak marfhum pada yang terjadi saat itu, mengapa kita lah yang selalu harus benar..

Apa sebetulnya makna lebaran ini? Hari penutup ketika kita telah usai berpuasa selama Ramadan?Ketika kita mendapat atau membagikan angpau pada sanak saudara?hari kita membayarkan zakat yang menjadi kewajiban? Hari saat kita meminta maaf pada kerabat? Hanya itukah?

Saya juga tidak tahu..Maafkan saja segala salah dan khilaf saya ya…tak ada yang sempurna di dunia ini. Semoga kita selalu lebih baik dari hari ke hari.. Wassalam…

———–>Apakah lebaran ini, si Ammar Jr bersama keluarganya juga makan ayam opor ya di atas sana…